Tersakiti Oleh Rasa Sakitnya [Steempress #57]

Hari ini tidak ada senyum cerita yang sering menghiasi wajahnya, senyuman itulah yang membuat lelahku hilang entah kemana. Meskipun seharian penuh lelah bekerja untuk menafkahi keluarga, senyuman itu menghapus lelahku. Hari ini sepeda kecilnya tidak berlari sebagaimana biasanya yang sering menerjang kesana kemari bersama beberapa pesepeda lainnya. Sepeda orange mungil itu terparkir rapi di sudut rumah ditinggal sang pengendaranya. Hari ini rumah terasa sepi tidak seperti biasanya. Malaikat kecil itu membuat segalanya jadi berbeda. Suasana yang biasanya ramai, kini menjadi sepi. Hanya satu orang saja, yaitu dia putri kecilku tidak ada dirumah hari ini, maka rumahpun seperti tak berpenghuni. Sejak malam kemarin dia menderita demam sehingga hari-harinya yang biasa ceria harus menjadi lesu. Dia tak berdaya karena diserang demam tinggi. Wajahnya lesu, matanya memerah, bahkan kedua telinganya ikut merah. Sesekali dia mengeluh kakinya sakit mungkin terasa pegal karena demam yang menderanya. Kadang ia mengeluh sakit kepala. Beberapa macam obat yang saya ambil dari tempat praktek dokter belum menunjukkan tajinya. Suhu badannya tak kunjung turun. Tak terhenti disitu beberapa macam dedaunan ikut ambil bagian untuk meredakan demam anak saya namun belum juga ada hasilnya. Setelah shalat jumat hari ini saya mencoba mengecek kembali suhu badannya dengan menggunakan termometer yang saya beli dari apotek. Angka yabg tertera di alat tersebut sungguh mengejutkan saya, 40° celcius. Bukan sebuah angka yang menyenangkan untuk suhu tubuh anak. Mengingat dulu ketika dia berumur 2 tahun pernah menderita stiup atau step ketika suhu badannya mencapai angka 39. Tanpa berpikir panjang saya langsung membawanya kerumah sakit. Rumah Sakit Umum Dr. Fauziah Bireuen menjadi tempat istirahatnya malam ini. Seakantak tega namun tak berdaya, seandainya bisa biarlah saya yang menanggung rasa sakit tersebut, namun saya mencoba untuk tetap sabar dan tabah karena apa yang diberikan tuhan itulah yang terbaik untuk saya terima. Semua kecerian saya sirna melihat putri kecilku yang biasanya ceria kini terkulai lesu dengan wajah yang memerah karena suhu badannya yang terlalu panas. Jarum infus itu akhirnya menusuk ke urat tangannya yang mungil. Dia meraung kesakitan ketika dokter menancapkan jarum kecil itu ke tangannya. Saya tak tega benar-benar tak tega melihatnya kesakitan seperti itu. Namun tak ada pilihan yang tersisa setelah beberapa cara yang saya coba untuk menurunkan suhu badannya tak kunjung bekerja. Meskipun tak sanggup melihat, akhirnya saya harus rela karena itu satu-satunya jalan yang tersisa demi kesembuhannya. Semoga saja dia cepat sembuh dan kembali riang seperti sedia kala. Bermain dan bersekolah dengan teman-temannya seperti biasa. Karena keceriaan seorang anak kebahagiaan yang sangat besar bagi setiap orang tua. Mohon kiranya teman-teman yang membaca tulisan ini mendoakan dia agar cepat sembuh. Terima kasih dan salam @tfq86.

Leave a Reply