Dokter Specialis Yang Tak Special [Steempress 60]

 

Hai sahabat steemian semua, salam sehat buat kalian semua. Pada postingan kali ini saya tertarik untuk menulis tentang kinerja seorang dokter. Dokter ini merupakan salah satu dokter Specialis mata di Kabupaten Bireuen. Beliau bahkan punya tempat praktek yang mewah dan megah. Sebelumnya biar saya perjelas dulu kalau tulisan ini bukanlah untuk menghasut beliau, namun saya berharap semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi teman-teman. Kalau saya ingin menghasutnya, saya rasa FB adalah tempat yang lebih efektif karena disana bertaburan orang-orang yang siap menyambut berita seperti ini dan menyebarkannya sampai ke negri jin. Sekali bukan untuk menghasut, namun anggap saja ini sebagai informasi buat kita semua agar lebih berhati-hati dikemudian hari. Baiklah, kisah ini bermula ketika abang saya pada suatu pagi mengalami rasa nyeri pada salah satu matanya. Rasa nyeri itu semakin menjadi jadi hingga sorenya beliau meminta saya untuk mengantarnya ke tempat praktek dokter tersebut. Karena saat itu saya sendiri sedang kurang sehat dan harus pergi berobat juga, maka seorang teman bersedia membantu mengantarkan abang saya untuk berobat. Dengar nomor antrian 38 dia harus menunggu sampai jam 12 malam. Setelah namanya dipanggil dia bergegas memasuki ruang praktek dokter tersebut. Tanpa banyak diagnosa yang dilakukan dokter tersebut hanya sekitar lebih kurang 3 menit saja dia memvonis bahwa mata abang saya terkena radang begitulah keterangan yang diberikan oleh abang saya ketika saya bertanya kepadanya karena saya tidak bisa datang. Dengan dua macam obat tetes yang diberikan dan satu macam obat minum dia pulang dengan harapan akan membaik esok harinya. Kedua obat tersebut ditetes setiap tiga jam sekali sesuai anjuran sang dokter. Obat tersebut perihnya bukan kepalang bahkan dia harus meronta ronta setiap kali obat tersebut masuk kematanya. Saya sedikit khawatir melihatnya, namun itu adalah anjuran dokter. Dengan perasaan was-was saya berusaha tetap percaya dan meyakinkan abang saya untuk tetap meneteskan obat tersebut sampai esok hari.

Keesokan harinya, keadaan mata abang saya semakin memprihatinkan. Matanya yang semula hanya perih, sekarang malah bengkak dan lebam bahkan rasa perih nya semakin menjadi-jadi. Tanpa berpikir panjang saya langsung membawanya untuk kembali menemui dokter tersebut kembali. Pertemuan kedua dengan sang dokter terasa sedikit aneh, tanpa memeriksa dengan teliti sang dokter malah menyalahkan abang saya karena tidak terus menerus meneteskan obat seperti yang dia suruh. Meskipun abang saya sudah mengatakan keluhannya terkait reaksi dari obat yang ia pakai sang dokter tetap tidak bergeming, seolah olah dia tidak pernah salah dengan keputusannya. Masih dengan perasaan ragu dan bimbang kami pulang membawa kembali obat dari dokter tersebut. Saat malam tiba mata abang saya semakin parah saja, hingga keesokan harinya dia harus dibawa ke rumah sakit karena sekarang bukan hanya matanya saja yang bermasalah namun kondisi badannya juga sudah demam. Dalam keadaan susah dan kesal saya membawa abang saya ke salah satu Rumah Sakit di Bireuen. Karena waktu itu dokter mata belum masuk, kami terpaksa menunggu di Instalasi Gawat Darurat. Malamnya dokter pun masuk dan memeriksa nata ababg saya dan meminta obat yang diberikan oleh dokter sebelumnya. Betapa terkejutnya kami ketika dokter di rumah sakit mengatakan bahwa obat yang sudah dipakai tersebut ternyata salah. Firasat kami sebelumnya ternyata benar. Saya saya geram dan ingin sekali menjumpai dokter sebelumnya, namun tetap berusaha sabar dan abang saya juga bilang tidak perlu. Setelah dua hari dirawat dirumah sakit akhirnya mata abang saya semakin membaik dan sudah bisa dibuka meskipun belum sepenuhnya sembuh.

Kejadian ini membuat saya bertanya apa makna Sp.M (specilis mata) sebagai gelar yang disandang oleh sang dokter. Tidakkah ia tahu bahwa kesalahan kecilnya bisa menyebabkan orang lain mengalami cacat mata permanen atau kebutaan. Semua manusia memang pernah silap dan khilaf namun dalam hal ini tentu saja sangat fatal apalagi setelah kami kembali untuk kedua kali menemui sabg dokter dan mengatakan keluhan tetapi dia malah menyalahkan kami Apa jadinya bila abang saya terus-terusan memakai tetes mata yang dia kasih. Ini bukan soal berapa biaya yang kami habiskan untuk berobat pada dokter tersebut, namun dimana rasa tanggung jawabnya sebagai seorang dokter dengan gelar Sp.M yang ia sandang. Bagi saya ini sangat brutal. Saya sungguh tidak bisa membayangkan bila abang saya harus kehilangan penglihatannya gara-gara kecerobohan seorang specialis mata. Bagi teman-teman semuanya saya mengimbau agar kalian berhati dalam berobat meskipun pada seorang specialis. Kejadian ini membuat saya bertanya apa sebenarnya arti specilis pada gelar dokter tersebut. Sekali lagi bukan maksud menghujat namun lebih mengarah pada berbagi informasi untuk kita semua. Semoga postingan ini bisa menjadi pengalaman yang berharga bagi kita semua untuk lebih waspada dalam memilih pengobatan. Terima kasih banyak telah membaca postingan saya, semoga ada manfaatnya.

Leave a Reply