Di Millenial cafe Kami Bersua [Steempress #34]

 

 

Ada momen yang masih hangat diingatan ketika saya berkunjung ke Jakarta beberapa waktu silam. Sebenarnya momen tersebut tak terencana namun sangat bermakana meskipun hanya sempat bertatap muka dan bertukar kata sebentar saja. Berawal dari sebuah foto status yang saya unggah pada waktu itu hingga seorang teman yang sudah sangat lama tidak saya jumpai men-japri saya.

“itu di taman mini ya bang?

“iya, jawab saya. karena foto yang

“kapan ke Jakarta?

“sudah beberapa hari

” kenapa tidak bilang-bilang bang?

“ini sudah saya bilang, jawab saya sambil berkelakar.

Dari percakapan singkat tersebut akhirnya kami sepakat untuk berjumpa di Millenial Cafe. Millenial Cafe letaknya di Jl. Pondok Kopi no. 9 Jakarta Timur. Meskipun masih satu Kabupaten dengan Ciracas yaitu Jakarta Timur namun Pondok Kopi lumayan jauh dari Ciracas karena Pondok Kopi sudah dekat dengan Bekasi yang masuk ke wilayah Jawa Barat. Tepat semalam setelah percakapan singkat tersebut sayapun mengajak kedua sepupu saya untuk menuju kesana menggunakan sepeda motor. Membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih kurang barulah kami tiba disana.

Sesampainya disana beberapa teman yang lain juga sudah berkumpul sambil ngopi menunggu kedatangan kami. Tanpa banyak bicara saya langsung merangkul teman-teman saya yang sudah lama tidak saya temui. Namanya Vanny sama-sama berasal dari Bireuen. Dia orang yang menyenangkan dab lucu. Perawakannya mungil namun usianya tidak semungil tubuhnya. Apa yang menjadi ciri khas dari dirinya adalah rambutnya yang panjang untuk ukuran rambut pria. Dia sering mengikat rambutnya dengan pengikat rambut yang lazim dipakai oleh para wanita. Sangat menyenangkan akhirnya bisa berjumpa kembali dengan dia setelah terakhir kali kami bersama-sama berkunjung ke Pulo Aceh untuk memancing. Millenial Cafe merupakan tempat yang sangat nyaman untuk disinggahi meskipun tidak terlalu mewah layaknya cafe-cafe di Ibukota. Tatanannya klasik dengan menggunakan kursi dan meja dari kayu yang sudah dipoles sedemikian rupa sehingga kelihatan wah. Pelayanannya juga sangat bagus dan ramah. Dan yang paling penting bagi saya waktu itu adalah rasa kopinya. Kopi khas Aceh tersedia disana dan beberapa menu lainnya yang juga kelihatan memikat. Sambil menikmati secangkir kopi khas Aceh kamipun berbincang ria melepas rindu. Beberapa teman lainnya yang juga berasal dari Bireuen ikut nimbrung untuk memecah keheningan dimalam itu.

Menjelang tengah malam kamipun bergegas untuk beranjak pulang. Pertemuan sesaat yang tak terencana tetapi penuh makna akhirnya harus dipisahkan kembali oleh waktu. Persahabatan adalah sesuatu yang sangat berharga. Meskipun sudah lama tidak bertemu perasaan disaat kami berjumpa kembali sangat luar biasa. Menjaga persahabatan adalah sesuatu yang wajib menurut saya. Itulah sebabnya meskipun jauh da Ciracas dan harus bepergian dimalam hari menempuh udara yang dingin saya tidak merasa kelelahan dan ogah. Bersama kedua sepupu saya akhirnya kamipun kembali ke Ciracas setelah berpamitan dan teman saya tersebut juga pergi untuk kembali ketempat dia bekerja di Bekasi. Keadaan yang memaksa dia untuk merantau agar bisa menyambung hidup setelah menempuh berbagai cara dikampung nya namun tak kunjung menemukan jalan keluar terbaik selain pergi merantau. Dari raut wajahnya saya dapat melihat bahwa sekarang hidupnya sudah lebih mapan dari sebelumnya. Saya ikut senang untuk dia setelah memastikan kalau sekarang kehidupannya memang sudah lebih baik. Itulah sepenggal kisah yang dapat saya bagikan dengan kalian dimalam ini semoga ada sesuatu yang bermanfaat untuk kalian ambil dari postingan ini. Terimakasih dan salam hangat @tfq86.

Saleum Meutaloe Syedara

Steemit jeut tiep uroe yang bek tuwo pujo Rabbana

 

Leave a Reply